Jumat, 07 Agustus 2009

AIR TERMAHAL DI DUNIA


Di gang-gang yang sempit di daerah Pademangan Timur Jakarta Utara ini, sedang dijajakan salah satu air termahal di dunia. "Harganya antara 37 ribu Rupiah hingga 75 ribu Rupiah per meter kubik. Tak ada orang di dunia yang membayar air 7 Dolar AS per meter kubik," ujar Firdaus Ali dari Badan Regulator PAM DKI Jakarta saat ditemui di kantornya. Ia mengucapkan kata-kata tersebut secara perlahan, penuh tekanan.

Warga yang jauh lebih mampu, yang tinggal di perumahan elite di Jakarta Selatan dengan pendapatan puluhan bahkan ratusan kali lipat dari orang-orang Pademangan tak perlu membayar semahal itu. "Paling mahal hanya membayar 9.000 Rupiah per meter kubik. Mobilnya dimandiin, motor gedenya dimandiin. Bayangkan betapa sedihnya.

Jakarta, memang tidak adil dan ketidakadilan itu datang dari keterbatasan sumber daya air yang mendukung kota ini. Kota yang begitu dahaga ini membutuhkan sekitar 548 juta meter kubik air tawar bersih per tahun, cukup unyuk mengisi sekitar 219 ribu kolam renang kelas olimpiade. Itupun hanya untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga warga Jakarta, belum termasuk kebutuhan industri , perkantoran dan hotel yang bisa ditambahkan sekitar 30 persen dari angka yang tercantum dia atas.

Sayangnya, Jakarta adalah kota yang lebih besar pasak daripada tiang. Tahun 2007, kapasitas produksi air bersih PAM JAYA berjumlah 425 juta meter kubik- masih ada sekitar 48 ribu kolam renang yang kering tak terisi. Defisit air makin nyata di siang hari, tatkala jumlah penduduk bertambah menjadi 10 hingga 11 juta jiwa akibat pekerja yang berdatangan dari luar Jakarta.

Pada dasarnya, air bersih yang dipasok oleh perusahaan daerah yang sejak 11 tahun silam bermitra dengan swasta PAM Lyonnoaise Jaya (Palyja) dan Aetra Air Jakarta (dulu Thames PAM JAYA) bersumber dari air permukaan, yaitu dari sungai dan kanal. Namun, masalah menghadang karena tidak semua sumber air permukaan dapat diolah, meski Jakarta punya 13 sungai. Menurut Muzakki Irawan dari Departemen Produksi Instalasi Pengolahan Air Pejompongan 1 Palyja, dulu mereka memiliki antara lain dua sumber bahan baku air, yaitu saluran Mokervart serta Kanal Tarum Barat atau Kalimalang. Namun, karena kualitas air dari saluran Mokervart dinilai sudah tidak layak menjadi bahan baku, kini yang jadi andalan tinggal Kanal Tarum Barat yang mengalirkan air dari Bendungan Jatiluhur Jawa Barat. Kini, sesekali Palyja juga mengambil bahan baku dari Banjir Kanal Barat jika benar-benar diperlukan dan saat kualitasnya dinilai memadai.

Sedangkan Aetra mengambil air hanya dari Kanal Tarum Barat, yang merupakan saluran terbuka dan melawati tiga sungai, yaitu Bekasi, Cibeet dan Cikarang. Menurut Aetra, mereka mengambil air dari saluran tersebut karena tidak ada lagi sungai lain di Jakarta yang lebih layak dari segi kualitas dan kuantitas.


Tak cukup itu saja, menurut Badan Regulator PAM, Jakarta punya sejumlah permasalahan kunci penyediaan air bersih lainnya, seperti cakupan pelayanan yang tak memadai serta tingkat kehilangan air yang mencapai angka 50 persen akibat pencurian air dan kebocoran pipa.


Dahaga warga Jakarta akan air bersih yang tak terpenuhi ini akhirnya membuat mereka tak punya pilihan selain mengambil air dari perut bumi Jakarta, baik air tanah dangkal, maupun air tanah dalam. Padahal, pengambilan air tanah dangkal bukannya tanpa resiko. Dalam pemantauan berkala kualitas air tanah, Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta sudah mendeteksi bakteri koli di 21 sumur dari 74 sampel sumur pantau yang ada di wilayah Jakarta pada tahun 2008. Masalah air tanah ini tak hanya ada di permukaan, namun jauh hingga ke dasar perut Jakarta.


Dikutip dari : Majalah National Geographic Indonesia edisi Agustus 2009




Senin, 13 Juli 2009

NADI KEHIDUPAN


Sungai Bengawan Solo telah menyokong kehidupan purba dan menghidupkan peradaban masa kini, yang menyisakan sepenggal misteri. Ia menjadi saksi bisu atas kemampuan alam melakukan modifikasi geografi, dengan mengubah arah aliran dari kawasan selatan menjadi utara tanah Jawa. Jutaan tahun lalu, Samudra Hindia menjadi akhir bengawan yang memiliki asal kata dari Desa Sala, namun berubah ke Selat Madura dan akhirnya kini disudet ke Laut Jawa. Perubahan ini menentukan takdir peradaban yang berkembang kemudian. Bagaikan nadi yang mengalirkan sumber utama kehidujpan, Bengawan Solo telah membuat jutaan manusia menggantungkan harapan. Ia menjadi bagian yang tak terpisahkan, meski saat ini telah mengalami krisis kehidupan. Romantika masa lalu yang rupawan terkoyak akibat pengurusan yang salah. Akankah sungai yang menjadi sumber daya kunci populasi dari 12 kabupaten / kota di Jawa Tengah dan Timur ini mampu membalikkan keadaan yang tak menguntungkan tadi ?

Kita pun seharusnya setuju bahwa bengawan yang mengalir sepanjang 540 kilometer ini membutuhkan perawatan sepanjang waktu. Kini, ganjaran itu telah datang akibat ketidakmauan dan ketidakpedulian manusia akan lingkungannya sendiri. Lihat saja, di bagian hulu. Meski tak sampai kekeringan, para pemukim yang berada di dekat sumber kehidupan di mana sungai ini berawal mengakui bahwa pada musim kemarau, aliran air yang menuju Kali Tengger dan Muning menyurut. Kedua sungai kecil inilah yang bersatu dan membentuk aliran besar, Bengawan Solo. Hal yang sebaliknya justru terjadi. Bengawan SAolo yang yang mengalir tenang, di puncak musim penghujan meluapkan air di sepanjang bengawan. Salah satu sebabnya adalah waduk yang dibangun untuk menampung aliran tak sanggup menjalankan fungsinya. Para insinyur telah merancang Bendungan Serbaguna Wonogiri, yang lebih dikenal Waduk Gajah Mungkur, berumur 100 tahun sejak masa operasi pertama pada tahun 1982. Namun, umur itu harus memendek, menjadi 25 tahun saja. Penyebabnya, laju sedimentasi sungai yang kini mencapai 8 milimeter pertahun, jauh di atas asumsi laju sedimentasi maksimal sebesar 2 milimeter per tahun. Ini lagi-lagi disebabkan oleh ulah manusia, mulai dari menggunduli hutan hingga mengonversi lahan hulu.

Bengawan juga menjalankan fungsi sosialnya. Bagi sejumlah orang yang bermukim di tepiannya, bengawan menjadi tempat suci untuk memperingati sebuah ritual masa silam. Di dekat jembatan di Kota Solo, Gesang menuliskan keindahan sungai itu melalui gubahan lagu keroncong, yang popularitasnya mengalir hingga jauh. Sebagian lainnya memanfaatkan aliran air untuk menyirami komoditas pertanian,yang berada di wilayah bantaran. Ketika fajar merekah, bengawan menyambut para ibu yang memulai kehidupan dengan melakukan aktivitas ekonomi. Sedikit lebih siang, generasi muda menyeberangi lebar sungai untuk pergi kesekolah. di tepian lainnya, berjarak 150 meter dari bengawan, di wilayah tengah, kita dapat menjumpai gelaran tradisional : tayuban. Di Dusun Mbungkul, Desa Sumber Rejo, salah satu Desa di Kecamatan Margomulyo, yang termasuk wilayah Kabupaten Bojonegoro, warga desa terutama kaum lelaki paro baya telah menantikan tarian ini digelar di bawah beringin tua yang rindang dan dikelilingi permadani alami yang menghijau. Tari ini menandai puncak acara ritual membersihkan mata air, tak ubahnya di bagian hulu.

Syukur atas sumber kehidupan itu tak lagi menular pada masa kini, yang ditandai dengan sejumlah perubahan : erosi, sampah dan limbah. Para pihak yang bermukim jauh dari tepian alpa memelihara bengawan. Erosi pun telah memindahkan pondok pesantren Langitan yang berada di wilayah Kota Tuban, Jawa Timur. Pondok para santri yang dibangun KH Muhammad Nur pada 1852 itu harus bergeser, jauh dari tempatnya semula didirikan. Perubahan lokasi pondok terjadi saat pondok berumur 99 tahun, yaitu tahun 1951.

Riwayat peradaban yang membentang di sisi bengawan masih menunggu untuk disingkap. Bagaimanapun, tanpa upaya pelestarian yang terpadu oleh para pemangku kepentingan, nadi kehidupan yang seharusnya menyokong peradaban justru akan menaburkan bencana. Akankah kita tetap berpangku tangan ?

Minggu, 31 Mei 2009

YANG PERLU KITA KETAHUI TENTANG AIR KOTOR


Air kotor dalam bahasa umumnya disebut sebagai air limbah, yaitu air buangan yang berasal dari kegiatan rumah tangga, seperti air bekas mandi, cuci, dapur, maupun dalam bentuk buangan manusia atau disebut juga air buangan domestik.

Sedangkan air limbah dari industri besar, industri rumah tangga, pertanian dan sebagainya, tidak dikategorikan sebagai air limbah domestik, melainkan sebagai sebagai air limbah industri. Air kotor atau limbah domestik sendiri terdiri atas dua jenis yaitu dalam bentuk grey water yaitu air buangan dari kamar mandi, cuci dan dapur, sedangkan air buangan manusia (tinja) disebut sebagai black water.

Jumlah air kotor yang dihasilkan oleh setiap orang adalah sebesar 70% dari pemakaian air bersih yang mana dari air bersih yang digunakan oleh manusia hanya 30% diserap oleh tubuh, sisanya adalah sebagai air limbah, baik dalam bentuk grey water maupun dalam bentuk black water.

Air kotor ini harus diperlakukan sebagaimana mestinya, karena apabila dibuang begitu saja akan berdampak lagi kepada kita yang membuangnya, misalnya megakibatkan penyebaran bibit penyakit (bakteri, virus, dan sebagainya) melalui pencemaran sumber-sumber air di lingkungan kita.

Adapun indikator pencemaran terhadap lingkungan akibat air kotor yang tidak ditangani dengan benar, antara kain :
Pada sumber air bersih :- Bakteri E Coli yang berasal dari kotoran manusia dan hewan.
- Perubahan kualitas air secara fisik dan kimia.
Pada lingkungan :- Kandungan bakteri E Coli tinggi.
- Terjadinya bau akibat pembusukan.
- Biota air mati.
- Tumbuh gulma dengan pesat.

Bagaimana memperlakukan air kotor yang kita buang setiap hari ? Yaitu dengan menyalurkan nya melalui sistem perpipaan sehingga air kotor tersebut tidak tersebar dan mencemari ke mana-mana yang kemudian kita perlakukan dengan baik yaitu melalui pengolahan, baik pengolahan sendiri dalam skala rumah tangga dengan sistem ekoteknologi yang pada saat ini banyak dikembangkan, yaitu dengan menggunakan tanaman air yang dapat menjadi estetika halaman atau lingkungan kita, ataupun kita salurkan ke sistem pengolahan terpusat untuk diolah menjadi air yang dapat digunakan kembali. Untuk itu perlakukanlah air kotor dengan cara yang benar.

Senin, 04 Mei 2009

DARI MANA AIRNYA ?


Pada tahun 2050 penduduk bumi akan mencapai 9 miliar, dari mana airnya ?

Sebuah buku berjudul "Pillar of Sand : Can the Irrigation Miracle Last ?" menelusuri sejarah irigasi yang sudah berusia 8.000 tahun. Lalu dipertanyakan, masih akan mampukah keandalan irigasi menghidupi penduduk dunia yang sedang menanjak ke angka tujuh miliar jiwa ?

Ledakan penduduk yang dramatis diikuti oleh kondisi yang bertolak belakang akan ketersediaan air. Air tanah semakin berkurang, air permukaan semakin tidak mencukupi, tanah mengalami proses pengasinan, sementara semakin luas lahan pertanian yang dialihfungsikan untuk keperluan lain. Sementara itu petani besar berusaha mempertahankan kondisi statusquo alias mengambang karena tidak ekonomis melakukan investasi pada perkembangan terbaru menyangkut kondisi air.

Masalah persediaan pangan tidak akan dapat dipecahkan dengan memperluas kawasan pertanian atau meningkatkan produktivitas selama air merupakan faktor pembatas. Masalah air tak hanya sebatas masalah seseorang, keluarga, kota, kawasan atau negara, tetapi bersifat global. Tidak hanya melibatkan dua kawasan seperti Cirebon dan Kuningan yang sering cekcok, atau antara kota Malang dengan Batu, tetapi sudah bersifat nasional, bahkan global.

Menurut sebuah laporan Bank Dunia, tidak kurang dari 80 negara di dunia dewasa ini mengalami kekurangan air yang langsung mengancam kesehatan dan perekonomian, sementara 40% dari penduduk dunia(lebih dari 2 miliar) tidak punya akses terhadap fasilitas air bersih dan sanitasi. Maka dalam kaitan ini, kita tidak bisa berharap konflik air dapat dipecahkan dengan mudah.

Ada belasan negara yang mendapatkan air tawar dari sungai yang berasal dari negara tetangganya yang bersikap tidak bersahabat. Sebut saja Botswana, Bulgaria, Kambodia, Kongo, Gambia, Sudan dan Suriah. Sekitar 75% sumber air tawar negara-negara itu mengalir dari negara tetangga yang bersikap keras.

Di Timur Tengah, air menjadi isu politik yang serius dan prioritas tinggi antar negara. Hal itu terlihat pada saat perundingan alot antara Suriah dan Israel, dan belum lama, Suriah, Turki dan Irak saling mengancam menyangkut pembagian sungai-sungai. Air memang sering mendatangkan konflik antar negara bilamana salah satu di antara yang berkepentingan terancam pasokannya.

"Seperti masalah energi pada akhir tahun 1970-an, air bakal menjadi sumber alam yang paling dipermasalahkan di bagian terbesar dunia pada permulaan abad mendatang." Demikian antara lain ditulis dalam surat kabar The Financial Times London. Besar kemungkinan, air menjadi pemicu perang antara berbagai negara dan bangsa di dunia.
Penyebab utama kelangkaan air secara global adalah derasnya pertambahan penduduk dunia yang tidak pernah berhenti. Sejalan dengan pertambahan penduduk, kebutuhan air untuk industri dan pertanian makin meningkat. Menurut Bank Dunia, permintaan air secara global meningkat dua kali lipat setiap 21 tahun. Dan sejak tahun 1900, penggunaan air telah meningkat enam kali lipat, padahal penduduk dunia hanya meningkat dua kali lipat. Ini menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan air terjadi karena meningkatnya standar kehidupan.

Sementara itu banyak negara yang mengalami percepatan proses penggurunan. Kualitas air di berbagai negara sangat merosot sejalan dengan pertambahan penduduk, dan diperparah lagi dengan proses pengasinan daerah pantai akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan. Dalam pada itu muncul pula perubahan iklim sebagai kartu liar, sejumlah pakar mengatakan, perubahan iklim berpotensi besar memperburuk keadaan yang memang telah buruk. Dengan suhu yang lebih tinggi disertai pencairan yang lebih cepat gumpalan-gumpalan salju, akan lebih sedikit persediaan air untuk pertanian dan konsumsi di kota-kota selama musim panas, dimana biasanya permintaan akan air meningkat tajam.

Salah satu solusi yang diyakini para ahli bisa menjawab tantangan itu dengan menyediakan tambahan sumber air adalah teknologi desalinasi. Dalam hal ini banyak peneliti mempersalahkan Amerika Serikat karena tidak mendukung penelitian desalinasi. Amerika Serikat yang pernah menjadi pionir dalam penelitian desalinasi, telah mengalihkan perannya ke Arab Saudi, Israel dan Jepang. Diperkirakan telah ada sekitar 11.000 instalasi desalinasi di 120 negara di dunia, 60% diantaranya terdapat di Timur Tengah.

Sebagian beralasan bahwa pendekatan pasar terhadap manajemen air akan dapat mengatasi situasi buruk dengan cara meletakkan masalahnya pada pendekatan-pendekatan bisnis. Mereka mengatakan bahwa pendekatan seperti itu akan mengatasi ketegangan-ketegangan politis dan keamanan yang sering meramaikan masalah-masalah dunia. Sebagai contoh Harvard Middle East Water Project menginginkan pemberlakuan suatu nilai atas air ketimbang memperlakukan sungai-sungai dan aliran-aliran sebagai semacam komoditi alam yang cuma-cuma seperti udara.

Strategi lain menghadapi problem air yang semakin meningkat secara global adalah dengan cara mengerem laju pertambahan penduduk, menurunkan tingkat pencemaran, perbaiakan terhadap pengelolaan atas kebutuhan dan persediaan. Dan disamping itu, mengupayakan konservasi sumber daya air. Buku Oasis menganjurkan "Mengerjakan lebih banyak dengan (energi) lebih sedikit (doing more with less) merupakan langkah pertama dan termudah menuju pengamanan air."


Sumber : Majalah Air Minum Edisi 161 Februari 2009

Minggu, 22 Maret 2009

100 JUTA WARGA BELUM MILIKI AKSES AIR MINUM


Sumarti, warga Jalan Muara Baru/ Marlina RT 09 RW 017, Jakarta Utara, mengeluh sulit mendapatkan air sejak 2001. Kalaupun air yang dikelola PT Palyja mengalir ke rumahnya, air itu bau. Akhirnya, setiap hari Sumarti terpaksa mengeluarkan uang Rp 11.000 untuk membeli air bersih pikulan.

Dulu waktu dikelola PAM Jaya air mengalir lancar, tetapi sekarang tidak lagi lancar. Kini dari pagi sampai siang saya harus mencegat penjual air di pinggir jalan, tetapi tagihan jalan terus. Saya ditagih total Rp2,85 juta dari tahun 2003-2009, keluhnya.

Hal sama disampaikan Marsiana, tetangga Sumarti. Kesulitan mendapat air bersih membuatnya pusing. "Janganlah orang miskin selalu ditindas hak-haknya. Kami sangat kecewa. Air itu penting sekali buat kami," ujarnya.

Supriatna, warga Mangga Besar XIII, Kelurahan Mangga Besar, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat, mengatakan, air rumahnya hanya mengalir pada pukul 02.00-04.00. Air yang ia tampung dini hari itu untuk mandi dan minum, sedangkan mencuci pakaian dan peralatan dapur dengan air tanah."Kadang air itu tidak cucup. Saya terpaksa beli air gerobak. Satu jeriken 20 liter Rp 1000. Biasanya saya beli enam jeriken setiap hari," katanya.

Unek-unek yang disampain Sumarti, Mersiana dan Supriatna adalah keluhan warga yang memimpikan air murah dan mudah diakses. Air adalah unsur terpenting dan menjadi prasyarat utama untuk mendapatkan sanitasi sehat.

Fakta dan kondisi di lapangan menunjukkan, penyediaan sarana-prasarana sanitasi yang memenuhi persyaratan di Indonesia sampai kini belum terpenuhi secara optimal. Saat ini lebih 100 juta penduduk yang tersebar di 30.000 desa kesulitan mengakses fasilitas sanitasi dasar.

Salah satunya seperti di sepanjang aliran Kali Brantas, Jawa Timur, dan Ciliwung, Jakarta, dimana sebagaian besar masyarakat yang tinggal di sekitar sungai masih buang air besar dan buang limbah rumah tangganya ke sungai.

Berdasarkan data Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional 2005, Indonesia menduduki posisi ke enam di Asia Tenggara soal sanitasi. Dari 206 juta penduduk Indonesia tahun 2005, baru 55,43 persen terlayani fasilitas sanitasi. Sementara Singapura sudah 100 persen, Thailand 96 persen, Filipina 83,06 persen, Malaysia 74,70 persen, Myanmar 64,48 persen dan baru disusul Indonesia.

Untuk mengatasi itu, berbagai upaya dilakukan pemerintah, diantaranya melelui program pembangunan air minum dan sanitasi seperti Water Supply and Sanitation for Low Income Communities (WSLIC), Comprehensive-Kampong Improvement Programme (C-KIP), dan Improvement Programme for Water Supply and Sanitation (SANIMAS).

Bappenas menargetkan 10 juta sambungan air bersih tercapai pada 2013. Dana yang dibutuhkan Rp 80 triliun. Saat ini baru terealisasi tujuh Juta sambungan. "Untuk target Tujuan Pembangunan Milenium (MDG's) tahun 2015 butuh Rp 95 triliun. Uangnya harus kita cari," kata Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas Budi Hidayat.

Berdasarkan data Departemen Pekerjaan Umum, cakupan pelayanan air minum melalui perpipaan di kota besar 45 persen, di desa 10 persen dan secara nasional baru 24 persen. Biasanya masyarakat mendapat air dari sumur bor yang tercemar karena lingkungan perymahan padat atau membeli air gerobak/jeriken yang mahal.

Masyarakat yang berpenghasilan rendah kini justru membayar air minum 10 kali lipat dari harga rata-rata. Anggota Badan Regulator Pelayanan Air Minum DKI, Dr Riant Nugroho, mengatakan, "Romantisme dari para pengawas, tarif air harus sanagat murah. Tarif air ditetapkan sekitar Rp 1000, tetapi itu tak ada. Masayarakat terpaksa beli air gerobak Rp 30.000 per meter kubik. Itu diatas harga tertinggi Rp 12.000. Jadi, orang miskin membayar air lebih mahal."

Untuk mempermudah akses air bersih dan agar warga berpenghasilan tidak membayar air lebih mahal, maka pemerintah membangun sambungan komunal.

Melalui sambungan komunal, air bersih untuk masyarakat berpenghasilan rendah tidak hanya menjadi mungkin, tetapi juga lebih murah, terjaga kualitasnya serta menghemat waktu karena akses yang dekat dan mudah.

Tak hanya itu, Environtmental Service Program USAID mempertemukan PDAM dengan BRI yang akhirnya melahirkan kebijakan kredit mikro sambunagn air bersih untuk warga berpenghasilan rendah, seperti di Medan, Sumut, dan Sidoarjo, Jatim.

Kelompok Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pkja AMPL) mengingatkan dari laporan MDG's tahun 2007, baru 56 persen warga mendapat pelayanan air minum, sementara sisanya 44 persen-sekitar 100 juta belum terlayani.

Pelaksana Pokja AMPL Oswar Mungkasa menyatakan, yang dimaksud adalah air minum, bukan air bersih. "Kalau tetap meyebut air bersih, kiat tidak akan pernah mencapai kualitas air minum. Semua air dari PDAM harus berkualitas air minum," katanya. Sampai kapan warga harus menanti ?


Sumber harian KOMPAS, Jumat 20 Maret 2009.

Kamis, 15 Januari 2009

BELANJA AIR MINUM 0,01 PERSEN APBD

Hasil studi pembiayaan air minum dan penyehatan lingkungan tahun 2003-2005, anggaran air minum dan penyehatan lingkungan hanya 0,01 persen sampai 1,37 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Sampai saat ini lebih dari 100 juta penduduk di 30.000 desa masih kesulitan memperoleh akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi dasar. Buruknya pelayanan air minum dan sanitasi merupakan kendala serius dalam mengurangi tingkat kemiskinan dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Kenyataan itu diungkapkan Ketua Pelaksanaan Harian Jejaring Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Oswar Mungkasa pada diskusi AMPL dalam ranah politik Indonesia, Selasa 13 Januari 2009 di Jakarta. “Pengalaman dari berbagai negara, krisis air bersih yang sangat berkaitan dengan sanitasi itu makin diperburuk oleh ketiadaan tekad para pemimpin. Akibatnya problem dasarnya bukan sekadar krisis keterbatasan air bersih, tetapi lebih pada kurangnya kemauan politik mencari solusi atas krisis air dan sanitasi,” katanya.

Akibat air dan sanitasi yang buruk, data dari Direktorat Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan menyebutkan, kasus diare menimpa 423 orang per 1.000 orang dan angka kematian tertinggi terjadi pada kelompok anak usia di bawah lima tahun yaitu 75 per 100.000 orang. Sementara itu, 350-810 orang per 100.000 penduduk terpapar tipus, dengan laju kematian 0,6-5, dan 35,5 persen penduduk Indonesia diperkirakan terpapar cacingan.

Menurut laporan Bank Dunia tahun 2008, dampak kesehatan akibat pengelolaan air dan sanitasi yang buruk menyebabkan Indonesia kehilangan Rp 56 triliun per tahun atau sekitar 2,3 persen dari produk domestik regional bruto (PDRB). Oswar menjelaskan, Indonesia termasuk salah satu dari 189 negara anggota PBB yang mencanangkan target Millennium Development Goals (MDGs).

Berdasarkan target MDGs menurunkan separuh proporsi penduduk tanpa akses terhadap air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada 2015, Indonesia dihadapkan pada dua tantangan. Pertama, tantangan meningkatkan hingga 67 persen proporsi penduduk yang memiliki akses pada sumber air minum yang aman. Kedua, tantangan meningkatkan hingga 69,3 proporsi penduduk memiliki akses pada fasilitas sanitasi dasar. Pengamat sosial politik dari Charta Politika Indonesia, Dr Bima Arya Sugiarto, mengatakan, lemahnya kemauan politik dalam menangani pelayanan publik bisa dilihat dari pemetaan isu-isu yang diangkat pada masa kampanye pilpres maupun pilkada. “Partai politik masih bertumpu pada politik iconic, bertumpu pada kekuatan tokoh dan simbol. Partai politik sangat terkendala untuk membangun politik programatik,” katanya. Namun kata Arya Sugiarto, ada kecenderungan pergeseran arah kampanye dari model iconic ke programatik meski masih sebatas isu-isu populis, instan, dan menyangkut kebutuhan dasar. (NAL)

Sumber : Harian Kompas, Rabu 14 Januari 2009

Selasa, 06 Januari 2009

PENCEMARAN AIR DI TELUK BALIKPAPAN


Kualitas air Teluk Balikpapan melampaui baku mutu, terutama tingkat kekeruhan, temperatur, serta kadar fosfat dan fenol. Ini mengindikasikan adanya pencemaran di perairan yang menjadi habitat satwa langka pesut laut dan duyung tersebut.

Hasil pemantauan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Kementrian Lingkungan Hidup untuk Regional Kalimantan tahun 2008 itu disampaikan Kepala PPLH Regional Kalimantan Dodo Sambodo, Minggu (4/1) di Balikpapan. “Laporan ini menjadi peringatan kepada para pihak terkait penyelamatan dan pengelolaan lingkungan Teluk Balikpapan,” katanya.

Pemantauan dilakukan pada 6 Desember 2008 di tujuh lokasi, diantaranya sekitar Pelabuhan Semayang, Pelabuhan Penajam, Kampung Baru, dan Kawasan Kilang Minyak Pertamina Unit Pengolahan (UP) V.


Parameter yang diukur sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Ait Laut adalah tingkat keasaman (pH), kekeruhan, temperatur dan salinitas. Adapun analisis laboratorium adalah total suspended solids (TSS), amonia (NH3N), fosfat, fenol, minyak dan lemak, air raksa (Hg), khrom heksavalen, arsen dan timbal (Pb).

Hasil pemeriksaan air dekat pipa buangan air limbah proses pendinginan PT Pertamina UP V Balikpapan menunjukkan tingkat kekeruhan 5 NTU dengan temperatur 32,2 derajat celcius. Padahal baku mutunya harus kurang dari 5 NTU dan temperatur 20-30 derajat celcius. Adapun tingkat keasaman (pH) dan konsentrasi oksigen terlarut masih baik.

Konsentrasi TTS dan fosfat pada semua titik pemantauan juga melampaui baku mutu. Konsentrasi TTS tertinggi ada di dekat Pelabuhan Semayang sebesar 52 mg/L. Padahal baku mutu TTS 20 mg/L. Kadar fosfat tertinggi ada di dekat Kilang Minyak Pertamina UP V sebesar 0,48 mg/L. Adapun baku mutunya 0,015 mg/L. Baku mutu kadar fenol adalah 0,002 mg/L. Namun di dekat Pelabuhan Semayang kadar fenolnya 0,003 mg/L, sedangkan di Kampung Baru 0,002 mg/L. Adapun parameter lain masih memenuhi baku mutu.

Konsentrasi fosfat perlu diwaspadai karena dapat menumbuhkan ganggang secara tidak terkendali seperti Teluk Jakarta yang beberapa kali mengalami serbuan alga merah beracun yang mematikan ikan dan biota laut. Terlewatinya baku mutu air laut, kata Dodo, mengindikasikan terjadinya pencemaran akibat kegiatan seperti pemurnian minyak bumi, aksidasi batu bara, kegiatan domestik, penggunaan disinfektan pada pertanian, kebocoran bahan bakar pada alat transportasi air, dan kegiatan lain yang menggunakan bahan kimia.

Bagi Pertamina UP V, hasil pemantauan bisa menjadi masukan untuk memperbaiki pengelolaan lingkungan, khususnya sistem pendingin pada pembuangan air limbah yang masuk ke Teluk Balikpapan. Kepala Bagian Humas Pertamina UP V Balikpapan Muhammad Imron berterima kasih atas masukan itu. Ia mengharapkan PPLH Regional Kalimantan menyampaikan hasil pemantauan secara resmi ke Pertamina UP V agar bisa ditindaklanjuti Bagian Pengelolaan Lingkungan. Menurut Imron, Pertamina UP V sangat peduli. Karena itu, pembuangan air limbah dari proses pendinginan dipantau secara ketat sebelum dibuang ke laut.

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) Kota Balikpapan Syahrumsyah Setia mengatakan, kondisi lingkungan Teluk Balikpapan tidak bisa ditangani oleh Pemerintah Kota Balikpapan saja. Kawasan laut ini berada di perbatasan Kabupaten Panajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara. Untuk Balikpapan, saat ini yang ditangani adalah penyelamatan sejumlah kawasan mangrove dan memperbaiki drainase sungai yang bermuara ke Teluk Balikpapan. “Masalah penanganan kualitas air laut Balikpapan, kita minta PPLH Regional Kalimantan dan Bapedalda Kaltim menjadi koordinator penanganan karena sudah menyangkut lintas daerah dan banyak perusahaan yang beraktivitas disana,” kata Syahrumsyah. (FUL)

Sumber : Harian Kompas, Senin 5 Januari 2009.