Minggu, 28 Februari 2010

KUALITAS AIR SUNGAI MUSI BURUK


Tingkat pencemaran di Sungai Musi meningkat akibat aktivitas industri dan limbah rumah tangga. Unsur pencemar tertinggi, seperti fenol, besi, dan fosfat, sudah melebihi nilai ambang batas sehingga berpotensi mengancam organisme sungai.

Menurut Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan Badan Lingkungan Hidup Kota Palembang Novrian Fadillah, Rabu (3/2) di Palembang, Sumatera Selatan, pihaknya baru melaksanakan penelitian dan uji contoh air di sejumlah titik di Sungai Musi yang mengalir di sepanjang Kota Palembang.

”Ada 22 unsur parameter bahan baku yang diteliti. Ada 10 parameter yang meningkat secara signifikan. Jika tak dikendalikan, hal itu bisa mengancam organisme Sungai Musi dan semua anak sungainya,” katanya.

Lima parameter pencemar kimia yang tergolong tinggi adalah besi, fenol, fosfat, chemical oxygen demand (COD), dan biological oxygen demand (BOD). Semua itu merupakan parameter utama untuk melihat apakah kadar pencemar di suatu tempat sudah berbahaya atau tidak bagi organisme dan mikroorganisme. Adapun derajat keasaman (pH) sungai mencapai 6-9.

Menurut Novrian, tahun ini tingkat pencemaran naik 10 persen karena angka baku mutu menjadi 10 miligram per liter. Untuk besi, fosfat, dan fenol, nilai ambang baku mutu masing-masing 0,3 miligram per liter.

Penyebabnya, kata Novrian, fosfat berasal dari limbah detergen, adapun fenol adalah zat kimia yang kerap dipakai dalam aktivitas industri. Di Palembang, fenol digunakan untuk menghilangkan karat pada kapal. ”Fenol paling berbahaya bagi manusia. Karena itu, perlu menjadi perhatian semua pihak,” katanya.

Kondisi ini tidak hanya memengaruhi ekosistem di Sungai Musi, tetapi juga berdampak ke anak-anak sungainya. Beberapa anak sungai di Kota Palembang yang berisiko tercemar adalah Sungai Bendung, Aur, Sekanak, dan Ogan.

Selain industri, Novrian menambahkan, limbah rumah tangga juga menjadi pencemar dominan. Penyebabnya, masih banyak warga yang beraktivitas di sungai, seperti mandi dan mencuci.

Pemerintah bisa memelopori upaya preventif terhadap masalah ini. Misalnya, membangun instalasi limbah skala rumah tangga. Ini sudah dilakukan sejumlah pemerintah daerah, salah satunya Kota Yogyakarta di Daerah Aliran Sungai Code. (ONI)

Sumber : Kompas, 4 Februari 2010

Minggu, 31 Januari 2010

AIR TANAH


Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di bawah permukaan tanah. Air tanah merupakan salah satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya dapat mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan.
Selain air sungai dan air hujan, air tanah juga mempunyai peranan yang sangat penting terutama dalam menjaga keseimbangan dan ketersediaan bahan baku air untuk kepentingan rumah tangga (domestik) maupun untuk kepentingan industri. Dibeberapa daerah, ketergantungan pasokan air bersih dan air tanah telah mencapai ± 70%.


Kerusakan sumber daya air tidak dapat dipisahkan dari kerusakan di sekitarnya seperti kerusakan lahan, vegetasi dan tekanan penduduk. Ketiga hal tersebut saling berkaitan dalam mempengaruhi ketersediaan sumber air.
Kondisi tersebut diatas tentu saja perlu dicermati secara dini, agar tidak menimbulkan kerusakan air tanah di kawasan sekitarnya. Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya permasalahan adalah:
Pertumbuhan industri yang pesat di suatu kawasan disertai dengan pertumbuhan pemukiman penduduk akan menimbulkan kecenderungan kenaikan permintaan air tanah.
Pemakaian air beragam sehingga berbeda dalam kepentingan, maksud serta cara memperoleh sumber air.
Perlu perubahan sikap sebagian besar masyarakat yang cenderung boros dalam pengggunaan air serta melalaikan unsur konservasi.


Adanya krisis air akibat kerusakan lingkungan, perlu suatu upaya untuk menjaga keberadaan/ketersediaan sumber daya air tanah salah satunya dengan memiliki suatu sistem monitoring penggunaan air tanah yang dapat divisualisasikan dalam data spasial dan atributnya. Dalam Undang-undang Sumber Daya Air, daerah aliran air tanah disebut Cekungan Air Tanah (CAT) yang didefinisikan sebagai suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbunan, pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung.
Menurut Danaryanto, dkk. (2004), CAT di Indonesia secara umum dibedakan menjadi dua buah yaitu CAT bebas (unconfined aquifer) dan CAT tertekan (confined aquifer). CAT ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan total besarnya potensi masing-masing CAT adalah :
CAT Bebas : Potensi 1.165.971 juta m³/tahun
CAT Tertekan : Potensi 35.325 juta m³/tahun
Elemen CAT adalah semua air yang terdapat di bawah permukaan tanah, jadi seakan-akan merupakan kebalikan dari air permukaan.


Lapisan di dalam bumi yang dengan mudah dapat membawa atau menghantar air disebut lapisan pembawa air, pengantar air atau akufir, yang biasanya dapat merupakan penghantar yang baik yaitu lapisan pasir dan kerikil, atau di daerah tertentu, lava dan batu gampil.
Penyembuhan atau pengisian kembali air yang ada dalam tanah itu berlangsung akibat curah hujan, yang sebagian meresap kedalam tanah, bergantung pada jenis tanah dan batuan yang mengalasi suatu daerah curah hujan meresap kedalam bumi dalam jumlah besar atau kecil, ada tanah yang jarang dan ada tanah yang kedap. Kesarangan (porositip) tidak lain ialah jumlah ruang kosong dalam bahan tanah atau batuan, biasanya dinyatakannya dalam persen. bahan yang dengan mudah dapat dilalaui air disebut lulus. Kelulusan tanah atau batuan merupakan ukuran mudah atau tidaknya bahan itu dilalui air. Pasir misalnya, adalah bahan yang lulus air melewati pasir kasar dengan kecepatan antara 10 dan 100 sihosinya. Dalam lempeng, angka ini lebih kecil, tetapi dalam kerikil lebih besar.


Sumber : Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Selasa, 29 Desember 2009

DIGESTER AEROB


Oleh Gede H. Cahyana

Digester aerob (aerobic digester) adalah unit proses yang difokuskan pada pengolahan lumpur biologis (bioflok) yang berasal dari IPAL dan berlangsung secara aerob. Selain itu, digester (baik aerob maupun anerob) ini pun dikelompokkan ke dalam satu paket pengolah lumpur dengan Imhoff tank (MAM, edisi 114, Februari 2005). Perlu pula disampaikan, ada perbedaan pendapat dalam mengelompokan jenis-jenis digester, misalnya ada yang menyatakan bahwa digester pastilah (hanya) anaerob.

Telah berlaku umum, pengolahan zat organik terlarut di dalam air limbah secara aerob selalu menghasilkan mikroba, biomassa atau lumpur (sludge) yang sering disebut lumpur sekunder (secondary sludge). Seperti disebut dalam artikel sebelumnya, sludge yang dihasilkan harus diolah di fasilitas pengolah lumpur seperti sludge drying bed, filter press atau diolah dengan menggunakan digester aerob.

Karakteristik
Satu karakteristik utama yang membedakan lumpur dari IPAM PDAM dan lumpur dari IPAL PDAK (Perusahaan Daerah Air Kotor) adalah jenisnya. Lumpur hasil olahan prasedimentasi dan sedimentasi dari IPAM lebih banyak berupa komponen anorganik. Adapun lumpur primer (primary sludge) di IPAL selain mengandung zat organik terlarut juga mengandung atau bahkan mayoritas terdiri atas zat organik tak terlarut (insoluble) yang besar berat molekulnya.

Tujuan pengolahan dengan digester aerob adalah meniadakan zat organik tak terlarut dalam kondisi aerob yang bisa dilaksanakan di dalam tiga kondisi reaktor, yaitu reaktor teraduk sempurna (CSTR, completely stirred tank reactor) tanpa dan dengan resirkulasi dan reaktor batch. Sistem batch jarang diterapkan di lapangan tetapi sering digunakan untuk menentukan data desain di laboratorium. Kinerja CSTR tanpa resirkulasi relatif sama dengan kinerja CSTR dengan resirkulasi sehingga yang lebih banyak diterapkan adalah CSTR tanpa resirkulasi karena lebih ekonomis.

Digester aerob ini tampak atasnya berbentuk lingkaran dengan kedalaman maksimum 5 m. Pengadukan di dalam reaktor diasumsikan sempurna yang transfer oksigennya berasal dari aerator. Udara bebas juga dapat dijadikan sumber oksigen dengan cara membuka bagian atas reaktornya. Bisa juga oksigennya berupa oksigen murni sehingga bagian atas reaktornya ditutup. Pengoperasian instalasi kecil biasanya dilakukan dengan sistem batch, sedangkan di instalasi besar dilakukan dengan sistem kontinu sehingga diperlukan unit sedimentasi untuk mengendapkan sludge yang diolah.

Keunggulan
Digester aerob digunakan untuk mengolah lumpur sekunder yang dihasilkan dari proses lumpur aktif atau trickling filter yang banyak mengandung biosolid dengan reaksi dekomposisi mikrobiologi. Proses ini dapat digunakan untuk mengolah lumpur primer dengan syarat kandungan organiknya di atas 60% tetapi sebetulnya lebih ekonomis jika diolah dengan digester anaerob. Ini dilakukan karena kehadiran sejumlah besar zat organik non-mikrobial yang akan diubah menjadi biomassa sehingga membutuhkan banyak oksigen pada proses aerob dan membentuk lebih banyak sisa lumpur dibandingkan dengan digester anaerob.

Di bawah ini adalah sejumlah keutamaan digester aerob:
1. Produk akhir olahannya relatif stabil, seperti humus, tidak bau, mudah dibuang.
2. Kadar zat organik terlarut biodegradable sangat sedikit di dalam supernatan.
3. Karakteristik pengeringan lumpurnya cukup baik.
4. Biaya konstruksinya lebih murah dibandingkan dengan proses anaerob.
5. Jika yang diolah lumpur sekunder, maka efisiensi reduksi zat organik hampir sama dengan proses digester anaerob.
6. Lebih subur (pupuknya) jika dibandingkan dengan digester anaerob.
7. Konsentrasi limbahnya lebih kecil sehingga tidak perlu sludge thickening.
8. Reaktornya sederhana sehingga relatif lebih murah daripada digester anaerob.
9. Kesulitan operasinya sedikit daripada digester anaerob sehingga tenaga kerjanya boleh yang kurang terlatih.


Selain keunggulannya tersebut, ada beberapa kelemahan digester aerob:
1. Perlu energi untuk memasok oksigen sehingga biaya operasi-rawatnya lebih mahal daripada digester anaerob.
2. Reaktor tidak menghasilkan energi biogas karena tidak terbentuk metana.
3. Sludge hasil olahan tidak selalu terklarifikasi dengan baik sehingga supernatannya mungkin masih mengandung padatan tersuspensi (SS, suspended solid).
4. Jika digunakan untuk mengolah lumpur primer maka lebih banyak dihasilkan sisa sludge daripada digester anaerob.
5. Efisiensi bervariasi karena bergantung pada temperatur sehingga perlu ada kendali temperatur.

Kinerja Operasi
Hakikat digester aerob untuk lumpur sekunder adalah CSTR yang hanya menerima sel mikroba (bioflok). Karena zat organik biodegradable terlarut (soluble) di influennya sangat sedikit maka reaksi yang terjadi hanyalah celluler death dan decay (kematian dan kerusakan sel mikroba). Kerusakan sel dapat dinyatakan dengan reaksi orde pertama sehingga konsentrasi sel di dalam reaktor akan berkurang jika waktu detensi hidrolisnya bertambah.

Kinerja digester ini bergantung pada (minimal) tiga hal dan ketiganya perlu ditetapkan lebih dulu dalam mendesain digester, yaitu volume reaktor, kebutuhan oksigen, dan power input. Ketiga hal tersebut ialah:

1. Model matematis
Model ini digunakan untuk menghitung kebutuhan volume reaktor yang juga berkorelasi dengan luas lahan yang diperlukan. Pada mulanya volume reaktor dihitung dengan cara volumetric loading (massa VSS per volume harian; VSS: volatile suspended solid) tetapi dengan perkembangan kinetika proses digunakanlah rekayasa reaktor, yaitu kombinasi antara persamaan laju reaksi dan neraca massa.

2. Nilai parameter
Persamaan-persamaan desain dapat digunakan jika nilai-nilai parameter atau konstanta laju reaksi dan kebutuhan oksigennya sudah diketahui. Semua parameternya ditentukan dengan uji di laboratorium dan diharapkan sama dengan kondisinya pada skala pilot maupun skala penuh (lapangan).

3. Pengaruh kondisi lingkungan.
a. Mixing
Jika pengadukannya tidak cukup maka akan terjadi pengendapan di dalam reaktor sehingga mengurangi volume efektifnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya kondisi anaerob. Pengurangan volume dan kondisi anaerob tersebut dapat mengurangi efisiensi proses pengolahan.

b. Temperatur
Seperti pada teknologi pengolahan air limbah, pengolahan lumpur secara bioproses pun sangat bergantung pada temperatur karena melibatkan mikroba dalam pengolahannya.

c. pH
Sejumlah konstanta laju reaksi bergantung pada pH. Ada studi yang menyatakan bahwa hasil optimal pengolahan terjadi pada pH 6,5 - 8,0. Perubahan pH dapat terjadi selama proses digesi akibat nitrifikasi yang besarnya bergantung pada konsentrasi nitrogen organik dan alkalinitas di dalam sludge.

Ketiga poin yang diperlukan dalam mendesain digester aerob tersebut tidak serta merta mudah dalam penerapannya. Digester aerob masih jarang diterapkan. Sebagian besar literatur tentang digester aerob hanya menguraikan studi laboratorium dan skala pilot. Hanya sedikit yang datanya berasal dari instalasi yang fullscale. Sekadar contoh, ada instalasi digester aerob di Canada, terdiri atas tujuh unit dan bersifat CSTR dengan modus operasi fill-and-draw atau SBR (SBR: Sequencing Batch Reactor, MAM edisi 134, Oktober 2006). Waktu detensi hidrolisnya cukup panjang, yaitu 14 s.d 360 hari dengan kecepatan injeksi udara antara 8,4 s.d 30 cfm/1000 ft3 dan konsentrasi lumpur 20.000 mg/l. Masalahnya, terjadi pengendapan lumpur sehingga volume efektifnya berkurang dan menurunkan efisiensinya.

Terlepas dari kekurangan itu, ada yang menyatakan bahwa digester aerob dapat mengolah lumpur sekunder hingga konsentrasi 60.000 mg/l. Betul ataukah tidak, sebagai hasil perkembangan teknologi di bidang pengolahan lumpur, digester aerob dapat diapresiasi sebagai alternatif untuk stabilisasi lumpur biologi yang menjadi konsekuensi logis dalam pengoperasian IPAL. *

Senin, 30 November 2009

WATEC 2009


Pemananasan global yang semakin mencekam belakangan ini, ditingkahi oleh krisis ekonomi dunia, mendorong perhatian yang lebih besar bagi tokoh, praktisi maupun ilmuan untuk ambil bagian dalam Water Environment and Energy Exhibition and Conference (WATEC'09) yang berlangsung pada 17-19 November 2009 di Tel Aviv, Israel.

Konferensi tersebut bertema "Krisis Sebagai Katalisator Mencapai Ekonomi Berkelanjutan". Tema itu sangat berkaitan dengan krisis air dan energi dunia dan pembangunan berkelanjutan.

Ketua penyelenggara konferensi itu, Booky Oren mengatakan, tekanan-tekanan ekonomi telah memicu krisis dunia usaha sejak tahun 2007. Dalam perkembangannya, solusi air dan energi diyakini sebagai suatu kunci penting untuk menstabilkan perekonomian dan mendorong pertumbuhan.

Dalam pada itu, krisis air yang disebabkan perubahan iklim mendorong banyak pemerintahan di dunia dan para industriawan melancarkan investasi sebagai solusi untuk meningkatkan produksi air dan efisiensi sambil mengupayakan ketersediaan air yang cukup diimbangi penyediaan dana yang cukup pula.

Sementara itu, walaupun dunia masih dilanda krisis ekonomi, lebih separuh industriawan air minum israel yakin penjualan mereka bertumbuh selama tahun 2009. Ada permintaan kepada perusahaan-perusahaan untuk memamerkan teknologi murah yang sangat berdampak pada penghematan air dalam jumlah yang berarti, teknologi yang meminimalkan air limbah, yang kesemuanya hemat energi untuk mendorong permintaan terhadap teknologi-teknologi itu.

"Efisiensi merupakan kebutuhan yang sangat menentukan, dan Israel merupakan pusat inovasi dunia di bidang ini," ujar Oren. Maka katanya, sangat beralasan bila ia berharap, perhatian pada konferensi dan pameran itu akan memecahkan rekor.

Pada tahun 2006 pemerintah memutuskan untuk menjadikan Israel sebagai "Lembah Silikon" global di bidang air untuk mendedikasikan keahlian dan inovasi-Inovasi teknis yang didapatkan selama hampir 60 tahun berkat adanya tantangan-tantangan berat di bidang air.

Israel memang pantas mendapatkan keahlian dan teknologi yang sangat berarti di bidang efisiensi dan produksi air minum. "Sebagai sebuah bangsa yang penduduknya telah meningkat tujuh kali lipat sejak tahun 1948, kami memang harus mengatasi berbagai tantangan agar kami dapat memenuhi kebutuhan akan air yang terus meningkat."

"Kami mengembangkan sistem irigasi tetesan demi tuntutan efisiensi yang semakin meningkat untuk pengairan pertanian. Kami juga membangun sistem desalinasi reverse osmosis (RO) terbesar di dunia di Ashkelon. Sekitar 75% dari air bekas pakai diolah kembali untuk keperluan pertanian. Kami terus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya air kami. Dan pada WATEC 2007 kami dapati bahwa bukan hanya kami saja yang berpendapat bahwa Israel memiliki banyak hal yang patut ditawar kepada bangsa-bangsa lain," kata Oren.

Ada ribuan pengunjung, baik dari Israel sendiri maupun dari luar negeri, termasuk utusan dari industri air minum terkemuka di dunia yang hadir pada WATEC 07.

Peningkatan efisiensi itu sendiri memerlukan penekanan pada teknologi. Maka menurut penyelenggara, WATEC 09 lebih berfokus pada pengembangan inovasi penggunaan yang efektif dan konservasi di samping saling berbagi teknologi, tindakan-tindakan mengatasi kekeringan, daur ulang air limbah, dan pilihan-pilihan lain atas sistem energi dan air.

Sumber : Majalah Air Minum Edisi 169 Oktober 2009.

Sabtu, 31 Oktober 2009

SUNGAI TERCEMAR


Sejumlah sungai yang mengalir di Provinsi Banten tercemar. Beberapa faktor penyebabnya antara lain limbah industri, kegiatan pertambangan, dan sedimentasi yang memperkeruh air sungai. Pencemaran itu berdampak pada menurunnya kualitas air sungai.

Kepala Subbidang Pengolahan Limbah Domestik, Bahan Beracun dan Berbahaya (B3), dan Limbah B3 Badan Lingkungan Hidup daerah Provinsi Banten Sukarno di Serang, Selasa 20/10/2009, menuturkan, sungai-sungai yang tercemar itu antara lain Sungai Ciliman, Cirarap, Cidurian, Cimanceri, Ciujung, Cibanten, Cidanau, Ciujung Kulon, Cibaliung, Ciberang, dan Cisadane.

“Akibat pencemaran, kualitas air sungai yang tercemar itu sudah tidak memenuhi baku mutu untuk air minum, pertanian, dan industri. Harus ada perlakuan khusus sebelum (air) digunakan, Seperti pemrosesan untuk menghilangkan zat kimia, pengendapan, atau menggunakan tawas,' kata Sukarno.

Penyebab pencemaran suatu alur sungai berbeda-beda bergantung pada karakteristik wilayah. Di Tangerang, misalnya, kebanyakan pencemaran akibat industri, sementara di Serang dan Pandeglang antara lain disebabkan industri dan aktivitas penggalian yang mengakibatkan sedimentasi tinggi.

Berdasarkan hasil pantauan dan analisis Balai Pengelola Sumber daya Air Provinsi Banten selama lima tahun (2004-2009), kualitas air sungai Cisadane tercemar limbah domestik, industri pertanian, fluktuasi aliran sungai, erosi dan sedimentasi.

Gangguan kualitas air tersebut juga terjadi di sungai Ciujung dan Cidurian. Parameter pencemar yang muncul di semua titik pantau sungai Cisadane, Ciujung, dan Cidurian adalah E-coli, total coli, dan nitrit. Ada pula parameter pencemar yang muncul di beberapa titik pantau, antara lain oksigen terlarut, timbal, dan kadmium.

Menurut Sukarno, upaya yang dilakukan untuk memperbaiki kualitas air sungai antara lain dengan menyiapkan peraturan daerah (perda) yang akan mengatur pembatasan pembuangan debit dan kadar parameter buangan yang bisa dibuang ke sungai. Perda ini diharapkan bisa tuntas pada tahun 2010.

Perda itu diperlukan karena Banten memiliki banyak sungai. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang merujuk pada data Dinas Kelautan dan Perikanan Banten, jumlah sungai yang mengalir di Kabupaten Pandeglang ada 77 sungai, Tangerang 1 sungai ,dan Serang 9 sungai.

Sukarno menuturkan upaya mengurangi pencemaran dilakukan dengan melibatkan pihak-pihak terkait. Untuk mengurangi sedimentasi akibat kerusakan hutan, misalnya, kerja sama dilakukan dengan dinas pertanian.

“Kami juga melakukan pembinaan bagi industri-industri agar memerhatikan kualitas lingkungan,” kata Sukarno. Dari 1600-an industri di Banten, baru sekitar 50 industri yang mengikutkan perusahaannya dalam pengujian tingkat pencemaran.

Disalin dari Harian KOMPAS, edisi Rabu 21 Oktober 2009

Senin, 28 September 2009

METODE DISINFEKSI KHLORIN TERUS DISEMPURNAKAN


Metode disinfeksi berbasis khlorin sebegitu jauh masih mendominasi cara-cara melenyapkan bakteri yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan air minum di seluruh dunia. Berikut sekilas tinjauan atas metode-metode tersebut serta faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan atas metode itu seperti dikemukakan oleh Dr. Carsten Persner, ahli kimia dari Grundfos.


Perusahaan air minum dimana pun juga, pasti memerlukan disinfeksi untuk melenyapkan kandungan mikrobiologi seperti bakteri E-coli, dan bakteri-bakteri lain yang bersifat menimbulkan penyakit, virus dan protozoa dari air minum. Banyak metode pembasmi bakteri yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun, tetapi sebegitu jauh metode berbasis khlorin masih yang paling banyak digunakan oleh perusahaan air minum.

Dijelaskan, tidak ada satu metode tunggal yang dapat memenuhi kebutuhan untuk membasmi mikrobiologi itu. Ada sejumlah sistem yang dirancang oleh Persner, yakni dosing gas khlorin, hipokhlorit elektolitik, dan pembangkitan dioksida khlorin untuk keperluan perusahaan perusahaan itu yang berkantor pusat di Reinanch, Swiss. Berdasarkan pengalamannya membuat rancangan-rancangan tersebut ditemukan bahwa peraturan-peraturan setempat sering menyulitkan untuk membuat kesimpulan umum dan menyusun rekomendasi. Faktor kesulitan lainnya adalah kesulitan mendapatkan bahan baku serta biaya-biaya yang berkaitan dengan aplikasi tiap metode seperti biaya energi, biaya bahan kimia dan sebagainya.

Gas khlorin masih tetap menjadi metode paling umum digunakan sebagai pemusnah bakteri di seluruh dunia berkat keandalannya sehingga dapat dipercaya membuat air minum aman, dan biayanya pun tergolong relatif murah.

Cara kerja khlorin ialah dengan membentuk hipoklorit (HclO) pada waktu dilarutkan dalam air. HclO adalah oksidan yang paling cepat bereaksi dengan dampak yang mematikan secara luas terhadap mikrobiologis. Gas ini mempunyai efektivitas yang tinggi dalam kadar rendah yang tidak membahayakan kesehatan manusia. Pelepasan khlorin secara berkelanjutan mendatangkan keuntungan tersendiri karena gas itu secara terus menerus membebaskan jaringan perpipaan dari bakteri untuk jangka waktu relatif lama.

Salah satu masalah gas khlorin disinfeksi adalah masalah transportasi, penyimpanan dan penanganan gas itu. Dalam bentuk dipadatkan (presurized), gas ini harus disimpan di dalam ruang khusus yang menelan investasi mahal dengan dilengkapi unit peringatan kalau-kalau terjadi kebocoran.

Gas khlorin harus ditangani dengan sangat hati-hati sesuai dengan resiko-resiko yang mengancam. Para petugas perlu dilatih secara khusus untuk menanganinya, dan prosedur keselamatan perlu diterapkan. Ini diperlukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan serta menanggulangi kondisi buruk yang mungkin akan terjadi.

Dalam hal dosing gas itu, dosing yang konstan dan akurat akan memberi hasil terbaik. Sistem khlorinasi gas disinfeksi secara hampa udara penuh seperti Vaccuverm buatan Grundfos dapat menjamin hal ini, begitu juga masalah keamanannya. Jika pompa hampa udara dalam sistem itu gagal atau hilang, tabung gas akan langsung terisolasi dan tidak akan terjadi kebocoran gas.

Khlorin dioksida (ClO2) menyediakan disinfeksi yang cukup lama diatas air. Sebagai suatu zat pembunuh bakteri, pembunuh spora, pembunuh virus dan pembunuh algae, khlorin dioksida juga efektif membunuh mikroorganisme yang resisten terhadap khlorin. Dari segi parameter rasa, khlorin dioksida tidak mengubah rasa atau bau dari air. Daya penyebab karatnya terhadap jaringan pipa juga lebih kecil dari pada hipoklorit. Selain itu, bahan ini juga efektif terhadap biofilm. Gas khlorin dioksida akan mengenyahkan berbagai sumber nutrisi yang terdapat dalam air dan merupakan zat yang ampuh membasmi mikroorganisme, dan dengan demikian akan memperpanjang efektivitas disinfeksinya.

Keuntungan signifikan penggunaan ClO2 didapatkan dari pelepasannya yang berkelanjutan dan dampak residunya. Dalam aliran berkecepatan rendah, bahkan di dalam air pipa yang tidak mengalirpun, khlorin dioksida terus menerus mencegah perkembangan mikroorganisme di dalam jaringan pipa. Berbeda dengan gas khlorin, khlorin dioksida tetap efektif di lingkungan dengan pH rendah (asam) tanpa memodifikasi pH.

Khlorin dioksida dihasilkan “di tempat” (on site) dari sodium khlorit dengan menggunakan gas khlorin atau asam. Metode gas akan memberi hasil yang tinggi dalam membunuh bakteri, tetapi untuk menanganinya diperlukan fasilitas khusus dan pelatihan bagi para operatornya.

Berkaitan dengan produk sampingan disinfeksi khlorinasi, itu sudah lama menjadi bahan penelitian, tetapi hasilnya tidak pernah konsisten. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa proteksi tingkat tinggi atas disinfeksi tidak bisa ditawar-tawar dalam usaha mengawasi konsentrasi produk-produk sampingan.

Dikutip dari : Majalah Air Minum Edisi Agustus 2009.

Jumat, 07 Agustus 2009

AIR TERMAHAL DI DUNIA


Di gang-gang yang sempit di daerah Pademangan Timur Jakarta Utara ini, sedang dijajakan salah satu air termahal di dunia. "Harganya antara 37 ribu Rupiah hingga 75 ribu Rupiah per meter kubik. Tak ada orang di dunia yang membayar air 7 Dolar AS per meter kubik," ujar Firdaus Ali dari Badan Regulator PAM DKI Jakarta saat ditemui di kantornya. Ia mengucapkan kata-kata tersebut secara perlahan, penuh tekanan.

Warga yang jauh lebih mampu, yang tinggal di perumahan elite di Jakarta Selatan dengan pendapatan puluhan bahkan ratusan kali lipat dari orang-orang Pademangan tak perlu membayar semahal itu. "Paling mahal hanya membayar 9.000 Rupiah per meter kubik. Mobilnya dimandiin, motor gedenya dimandiin. Bayangkan betapa sedihnya.

Jakarta, memang tidak adil dan ketidakadilan itu datang dari keterbatasan sumber daya air yang mendukung kota ini. Kota yang begitu dahaga ini membutuhkan sekitar 548 juta meter kubik air tawar bersih per tahun, cukup unyuk mengisi sekitar 219 ribu kolam renang kelas olimpiade. Itupun hanya untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga warga Jakarta, belum termasuk kebutuhan industri , perkantoran dan hotel yang bisa ditambahkan sekitar 30 persen dari angka yang tercantum dia atas.

Sayangnya, Jakarta adalah kota yang lebih besar pasak daripada tiang. Tahun 2007, kapasitas produksi air bersih PAM JAYA berjumlah 425 juta meter kubik- masih ada sekitar 48 ribu kolam renang yang kering tak terisi. Defisit air makin nyata di siang hari, tatkala jumlah penduduk bertambah menjadi 10 hingga 11 juta jiwa akibat pekerja yang berdatangan dari luar Jakarta.

Pada dasarnya, air bersih yang dipasok oleh perusahaan daerah yang sejak 11 tahun silam bermitra dengan swasta PAM Lyonnoaise Jaya (Palyja) dan Aetra Air Jakarta (dulu Thames PAM JAYA) bersumber dari air permukaan, yaitu dari sungai dan kanal. Namun, masalah menghadang karena tidak semua sumber air permukaan dapat diolah, meski Jakarta punya 13 sungai. Menurut Muzakki Irawan dari Departemen Produksi Instalasi Pengolahan Air Pejompongan 1 Palyja, dulu mereka memiliki antara lain dua sumber bahan baku air, yaitu saluran Mokervart serta Kanal Tarum Barat atau Kalimalang. Namun, karena kualitas air dari saluran Mokervart dinilai sudah tidak layak menjadi bahan baku, kini yang jadi andalan tinggal Kanal Tarum Barat yang mengalirkan air dari Bendungan Jatiluhur Jawa Barat. Kini, sesekali Palyja juga mengambil bahan baku dari Banjir Kanal Barat jika benar-benar diperlukan dan saat kualitasnya dinilai memadai.

Sedangkan Aetra mengambil air hanya dari Kanal Tarum Barat, yang merupakan saluran terbuka dan melawati tiga sungai, yaitu Bekasi, Cibeet dan Cikarang. Menurut Aetra, mereka mengambil air dari saluran tersebut karena tidak ada lagi sungai lain di Jakarta yang lebih layak dari segi kualitas dan kuantitas.


Tak cukup itu saja, menurut Badan Regulator PAM, Jakarta punya sejumlah permasalahan kunci penyediaan air bersih lainnya, seperti cakupan pelayanan yang tak memadai serta tingkat kehilangan air yang mencapai angka 50 persen akibat pencurian air dan kebocoran pipa.


Dahaga warga Jakarta akan air bersih yang tak terpenuhi ini akhirnya membuat mereka tak punya pilihan selain mengambil air dari perut bumi Jakarta, baik air tanah dangkal, maupun air tanah dalam. Padahal, pengambilan air tanah dangkal bukannya tanpa resiko. Dalam pemantauan berkala kualitas air tanah, Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta sudah mendeteksi bakteri koli di 21 sumur dari 74 sampel sumur pantau yang ada di wilayah Jakarta pada tahun 2008. Masalah air tanah ini tak hanya ada di permukaan, namun jauh hingga ke dasar perut Jakarta.


Dikutip dari : Majalah National Geographic Indonesia edisi Agustus 2009